LAPORAN BACAAN (BOOK REPORT)
BUKU PEGANGAN PENELITIAN SASTRA BANDINGAN
KARYA SAPARDI
DJOKO DAMONO
TUGAS
SASTRA BANDINGAN
Dosen Pembimbing
Prof. Dr. Hasanuddin WS, M.Hum.

Oleh
ARMET
NIM 15174042
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
PROGRAM
PASCASARJANA
UNIVERSITAS
NEGERI PADANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Identitas
Buku
Buku
ini berjudul Pegangan Penelitian Sastra
Bandingan ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. Buku ini diterbitkan oleh
lembaga Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa pada tahun 2005 yang
bertempat di Jakarta. Jumlah halaman buku ini yaitu sebanyak 123 halaman dan
ditambah 5 halaman romawi. Panjang buku ini 21 cm dan memiliki lebar 15
cm. No. ISBN buku ini yaitu 979-685-513-5
serta nomor seri untuk perpustakaan 807. Warna cover buku asli lebih dominan putih, serta serdapat gambar
kaca pembesar, tulisan judul buku tersebut berwarna hitam dan tercantum nama
penulisnya berwarna merah, sedangkan yang dilaporkan adalah buku hasil fotokopi yang
berwarna orange serta tulisan pada judulnya berwarna hitam. Kata pengantar
dalam buku ini disampaikan oleh Dendy Sugono di Jakarta pada tanggal 16
November 2005. Adapun garis-garis besar yang akan dibahas dalam buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan
karangan Sapardi Djoko Damono adalah:
1. Kata
pengantar terdapat pada halaman iii
2. Daftar
isi pada halaman v
3. Pendahuluan
halaman 1
4. Beberapa
pengertian dasar halaman 2
5. Perkembangan
sastra bandingan pada halaman 13
6. Asli,
pinjaman, tradisi pada halaman 18
7. Terjemahan
pada dhalamn 27
8. Sastra
bandingan nusantara pada halaman 43
9. Membandingkan
dongeng halaman 54
10. Dalam
bayangan tagore halaman 66
11. Jejak
romantisme dalam sastra Indonesia halaman 77
12. Gatotkojo:
Kasus pinjaman dan pemanfaatan halaman 89
13. Ahli
wahana halaman 96
14. Penutup
halaman 111
15. Bahan
bacaan halaman 120
|
|
|
|
Cover
asli buku Pegangan Penelitian Sastra
Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono |
Cover buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko
Damono dalam bentuk fotokopi yang dijadikan sebagai laporan bacaan |
B.
Identitas
Buku Pembanding
1.
Buku
Pembanding I
Judul
buku pembanding pertama adalah buku Sastra
Bandingan karangan Zulfahnur Z.F dan Sayuti Kurnia. Buku ini diterbitkan
pada tahun 1996. Penerbit buku ini adalah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
yang bertempat di Jakarta. Buku ini adalah hasil fotokopi yang berwarna biru
dengan tulisannya berwarna hitam dan terdapat di depannya gambar Tut Wuri
Handayani. Buku ini memiliki jumlah halamn 73 halaman ditambah dengan 3 halaman
romawi. Adapun garis-garis besar yang dibahas dalam buku ini adalah pengertian
dan tujuan sastra bandingan, perbandingan puisi modern Indonesia, perbandingan
novel-novel Indonesia, Perbandingan novel antar negara, dan perbandingan cerita
rakyat antardaerah, dan yang terakhir daftar pustaka.
2.
Buku
Pembanding Kedua
Buku Sastra Bandingan: Sebuah Pengantar Teori dan Pengkajian Sastra Bandingan karangan Yosi Wulandari. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Jagat Abjad yang bertempat di Solo. Buku ini diterbitkan pada tahun 2014. Warna buku ini dominan berwarna hitam, hijau, dan orange. Judul buku tersebut berwarna hitam dan sub judulnya berwarna orange, dan tulisan nama pengarangnya berwarna putih. Nomor ISBN buku ini adalah 978-979-1032-971. Jumlah halaman bukunya 212 halaman, sedangkan tebal buku tersebut berukuran 14x20,5 cm. Adapun gasir-garis besar pembahasan buku ini adalah dasar pemikiran pengkajian sastra bandingan, sejarah sastra bandingan, Konsep sastra nasional, sastra bandingan, dan sastra dunia, Ruang lingkup Penelitian sast Cakupan kajian sastra bandingan ra bandingan, Keterjalinan teks dan konteks dalam sastra bandingan, Studi bandingan sastra.
BAB II
RINGKASAN BUKU
1.
Bagian
Satu: Pendahuluan
Pada bagian ini menjelaskan garis besar tentang isi
buku. Adapun penjelasannya adalah bahwa buku ini merupakan sebuah buku pegangan
untuk para peneliti dengan menggunakan pendekatan sastra bandingan. Buku ini
tidak hanya membahas tentang sastra tulis saja melainkan juga tentang sastra
lisan.
2.
Bagian
Dua: Beberapa Pengertian Dasar
Bagian dua buku ini membahas tentang beberapa
pengertian dasar tentang hakikat dari sastra bandingan. Berbagai pandangan yang
diulaskan tentang pengertian sastra bandingan pada bagian dua ini. Salah satu
pandangan tentang sastra bandingan adalah dari Remak (1990: 1) menjelaskan
bahwa sastra bandingan membandingkan sastra sebuah negara dengan sastra negara
lain dan membandingkan sastra dengan bidang lain sebagai keseluruhan ungkapan
kehidupan. Banyak lagi pandangan pakar tentang hakikat dari sastra bandingan
tersebut. jadi, intinya bahwa sastra bandingan itu merupakan suatu proses
membandingkan antara sastra negara yang satu dengan sastra negara yang lain.
Menurut Damono (2005:5), kajian sastra bandingan
lebih ditujukan pada studi sastra yang melampaui batas-batas kebudayaan. Yang
menjadi hal penting adalah bahwa karya sastra yang dikaji itu masih dalam
bahasa aslinya sebab kekhasan karya sastra itu terdapat pada bahasanya. Studi
sastra yang dilakukan dalam sastra bandingan pada umumnya berawal dari adanya
kemiripan-kemiripan yang terdapat dalam sebuah karya sastra yang berasal dari
kebudayaan yang berbeda.
Sastra bandingan merupakana salah satu dari sekian banyak pendekatan yang ada dalam ilmu sastra. Pendekatan sastra bandingan pertama kali muncul di Eropa awal abad ke-19. Ide tentang sastra bandingan dikemukan oleh Sante-Beuve dalam sebuah artikelnya yang terbit tahun 1868 (Damono, 2005: 14). Dalam artikel tersebut dijelaskannya bahwa pada awal abad ke-19 telah muncul studi sastra bandingan di Prancis. Sedangkan pengukuhan terhadap pendekatan perbandingan terjadi ketika jurnal Revue Litterature Comparee diterbitkan pertama kali pada tahun 1921.
3.
Bagian
Tiga: Perkembangan Sastra Bandingan
Pada bagian tiga buku ini menjelaskan tentang
perkembangan sastra bandingan. Dari penjelasan pada bagian ini bahwa sastra
bandingan telah dikenal luas di dunia pendidikan, khusunya pada bidang sastra.
Sastra bandingan mula-mulanya dilahirkan serta dikembangkan di Eropa, adalah
benua yang terbagi menjadi sejumlah bahasa dan kebudayaan, namun pada dasarnya
semua itu bersumber pada mitologi Yunani dan kitab suci orang Kristen, yakni
Perjanjian Baru dan Injil. Bahasa-bahasa di Eropa yang beberapa di antaranya
mirip satu sama lain itu menghasilkan kesusastraan yang berbeda-beda, yang
dengan bebab dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain. Pada kegiatan tersebutlah
kegiatan menerjemahkan memberikan sumbangan yang besar bagi penyebaran
kesusasteraan di Eropa.
Sastra
bandingan berkembang juga terlihat pada sebuah artikel Sainte- Beuve yang dimuat di Revue des Deux Mondes terbitan tahun
1868 isi artikel tersebut menjelaskan
dengan akurat bahwa cabang studi sastra bandingan baru berkembang di Perancis
pada awal abad ke- 19 dan 20. Ia mengatakan bahwa cabang studi baru itu tidak
bisa mencakup perihal masuknya sastra asing seperti Italia dan Spanyol ke
Perancis yang terjadi pada paro kedua abad ke-16 dan paro pertama abad ke-17.
Di dalam juranal Sainte-Beuve isi jurnal tersebut memuat tentang
karangan-karangan mengenai intelektual, terutama sekali dalam melacak pengaruh
dan hubungan yang melewati batas-batas kebahasaan.
Sastra bandingan menjadi kegiatan yang wajar, tidak dicari-cari di Eropa. Meskipun ada beberapa bangsa yang mengembangkan aksara sendiri seperti bangsa Rusia, umumnya bangsa-bangsa di Eropa menggunakan aksara Romawi. Sementara itu, di benua lain seperti Asia, sastra bandingan menghadapi masalah besar sebab ditinjau dari segi linguistik dan budaya, bangsa-bangsa di Asia memiliki ciri-ciri tersendiri yang cenderung menolak dibanding-bandingkan. Di samping memiliki aksara yang berbeda-beda, Asia tidak memilki acuan yang tunggal dalam kebudayaannya seperti halnya bangsa Eropa.
4.
Bagian
Empat: Asli, Pinjaman, Tradisi
Bagian ini berjudul tentang asli, pinjaman, tradisi
yang membahas tentang bahwa perkembangan karya sastra modern banyak dari hasil
peminjaman dan mengalami kemiripan. Kemiripan itu baik dari segi judul, cerita yang disuguhkan oleh
novel yang ditulis oleh seseorang penyair. Sastrawan punya kecenderungan untuk
meminjam, langsung atau tidak langsung. Drama-drama Shakespeare yang dianggap
sebagai tonggak sastra dunia itu membuat beberapa pakar tidak ada yang “asli”,
alias semuanya pinjaman atau bahkan curian. Sumber curian itu bermacam-macam,
mulai dari karya sastra sampai berbagai jenis teks kronik dan sejarah. Bahkan
pada kenyataannya, banyak karya sastra modern yang bersumber pada tradisi
lisan.
Drama-drama Yunani klasik seperti Oedipus Rex, dan
Electra diciptakan berdasarkan dongeng yang beredar di masyarakat. Kisah
mengenai seorang anak laki-laki yang bernama Oedipus yang membunuh ayahnya dan
kmudian mengawini ibunya. Ternyata kisah seperti itu ada di mana-mana dan
disajikan dalam bentuk yang berbeda. Sedangkan pada drama Elektra yang
mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang membenci ibunya dan jatuh cinta
pada ayahnya. Kisah-kisah tersebut bertahan terus sampai sekarang dan tidak
pernah surut menyusup ke dalam berbagai bentuk sastra modern. Kisah Oedipus
tadi diturunkan dalam berbagai bentuk, di mana pun. Dalam kebudayaan Jawa dikenal sebagai Prabu Watu Gunung, sementara
di Sunda di kenal sebagai Sangkuriang.
Jenis kisah lain juga sangat populer di kalangan
rakyat adalah cinta yang tak kesampaian. Ini terlihat pada ciptaan asli Mh. Rusli dengan
judul novelnya Salah Asuhan karyanya tersebut mirip dengan kisah Romeo dan
Juliet. Kalau pada novel Salah Asuhan tokoh utamanya adalah Siti Nurbaya dan Samsulbachri.
Pinjaman tersebut tampak samar karena kisah baru yang ditulis Mh. Rusli
mengambil latar sama sekali berbeda. Kedua kisah pada karya tersebut adalah
cinta yang tak kesampaian.
Selanjutnya, proses peminjaman ke arah sebaliknya
juga telah terjadi. Pada tahun 1930-an, ketika festival teater di Paris,
pemerintah Hindia Belanda mengirimkan kelompok teater rakyat dari Bali yang
berjudul Calon Arang. Teater rakyat tersebut menarik perhatian seorang dramawan
Perancis yang bernama Antonim Artaud. Antonim Artaud juga menciptakan bentuk
teater baru dalam berjudul Theater of
Cruelty artinya dalam ‘teater kekejaman’ karena drama Bali tersebut
mempertontonkan adegan orang-orang menusuk-nusukkan keris ke tubuh mereka
sendiri. Proses serupa juga terjadi ketika seorang dramawan Amerika, Thomas
Wilder, meminjam teater Jepang Noh membuat inovasi dramatik dalam karyanya dengan
judul Our Town.
Yang dibahas sebelumnya beberapa hal yang menyangkut proses dan hasil pinjam-meminjam, namun dalam kesusastraan tidak meminjam pun bisa saja sebuah karya itu mirip dengan yang telah dihasilkan orang lain di tempat dan waktu yang berbeda. Situasi geografis yang mirip cenderung menghasilkan bentuk dan tema karya sastra yang mirip pula karena faktor geografis adalah komponen terpenting dalam pembentukan kebudayaan. Kemiripan juga bisa terjadi akibat dari perkembangan masyarakat dan peristiwa besar seperti perang.
5.
Bagian
Lima: Terjemahan
Pada bagian ini lebih menjelaskan bagamana proses
karya sastra itu diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Tentang terjemahan sastra merupakan judul bab yang paling
menarik dibahas dalam buku ini. Sapardi Djoko Damono mengajak kita
membayangkan, sebuah haiku
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, kemudian terjemahan itu dialihkan ke
bahasa Indonesia. Selanjutnya versi Indonesia itu dipindahkan ke dalam bahasa
Jawa, dan akhirnya haiku Jawa itu
‘dikembalikan’ ke asal-usulnya, bahasa Jepang. Sajak pertama dan terakhir tentu sama sekali akan berbeda. Karya terjemahan
tidak akan bisa mengungguli karya aslinya.
Proses terjemahan telah berlangsung pada zaman dulunya, yaitu
ketika nenek moyang kita mengembangkan aksara yang dipinjam di India, yang
antara lain menghasilkan aksara Jawa, Sunda, dan Bali, khasanah sastra
Indonesia ada dalam bayang-bayang sastra India sebab Indonesia telah
menerjemahkan begitu banyak karya mereka. Dalam perkembangan tersebut bahwa
ternyata yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu ketika itu bukan hanya yang
berasal dari Barat, tetapi juga dari mana saja, tergantung siapa yang
melaksanakan kegiatan terjemahan itu.
Sebenarnya
menterjemahkan karya sastra dalam bentuk bahasa asing dapat mengakibatkan salah
arti bahkan bisa saja salah makna dari karya aslinya. Berbagai pandangan muncul
terhadap sastra terjemahan ini. Salah satunya adalah Gifford yang memiliki
pandangan negatif tehadap sastra terjemahan; sastra terjemahan diibaratkannya
sebagai tidak lebih dari reproduksi hitam putih dari lukisan cat minyak sebab
teksturnya telah berubah. Gifford juga mengatakan bahwa tidak ada terjemahan
yang bisa menandingi taraf kehalusan dan kelengkapan yang ada dalam imajinasi
penulis asli dalam menyusun bahan karangannya; karena itu keutuhan sebuah karya
sastra asli akan dimiskinkan oleh terjemahan, meskipun taraf kemiskinan itu
tergantung pada jenis karya sastra yang diterjemahkan. Penerjemahan karya
sastra tidak usah dianggap sebagai usaha mati-matian untuk menjadi karya yang
sama dengan aslinya.
Kegiatan terjemahan sastra modern telah berlangsung
sejak sebelum Perang Dunia II, terutama oleh Balai Pustaka. Sebagian besar
karya yang diterjemahkan digolongkan ke dalam sastra populer atau anak-anak,
seperti karya Rider Haggard, Conan Doyle, dan B. Oreszy. Di luar Balai Pustaka
penyair Amir Hamzah menghimpun terjemahan sajak dari berbagai negeri Asia, yang
berjudul Setanggi Timur. Jadi,
terjemahan karya sastra yang selama ini yang dikerjakan oleh penyair adalah
bagian yang tidak terpisahkan dari sastra seorang penyair.
Berdasarkan penjelasan mengenai terjemahan di atas, dapat disimpulkan bahwa segenap terjemahan karya sastra yang selama ini kita terjemahkan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sastra kita. Langsung atau tidak langsung, penerjemahan itu ikut menggerakkan sastra. Kita tentunya sepakat bahwa terjemahan sastra yang kita inginkan adalah yang dalam bahasa sasarannya juga berupa karya sastra.
6.
Bagian
Enam: Sastra Bandingan Nusantara
Pada enam buku ini menjelaskan tentang bentuk sastra
bandingan nusantara. Sastra merupakan bagian dari kebudayaan, ditentukan oleh
geografi dan sumber daya alam. Dengan
adanya kedua tersebut kita menyusun masyarakat dan menentukan tata nilai. Dalam
karya sastra semua hal itu tercatat dan ditanggapi secara kreatif.di Indonesia
sumber penelitian sastra bandingan sangat kaya. Sastra Indonesia bisa di baca
oleh semua orang yang menguasai bahasa Indonesia, tidak pedulu dari mana pun
asalnya.
Membicarakan Sastra Bandingan
Nusantara, tak luput dari posisi Indonesia sebagai negeri yang sangat kaya
sebagai sumber penelitian sastra bandingan. Meski tidak semua bahasa yang
tumbuh di Indonesia memiliki aksara, namun berbagai jenis tradisi lisan yang berkembang
pun merupakan bahasa yang tak akan habis dikaji dalam kegiatan sastra
bandingan.
Menurut A. Ikram (1990) dalam makalahnya menjelaskan
bahwa studi perbandingan yang didasarkan pada sastra-sastra yang berkembang di
Nusantara. Di dalam makalahh tersebut ia membuat pengelompokkan masalah
berdasarkan konsep-konsep yang telah ditawarkan oleh Clement (1978), yaitu a)
genre dan bentuk, b) periode, aliran, dan pengaruh, serta c) tema dan mitos. Di
kawasan Nusantara kita menemukan genre wiracerita dalam berbagai bentuk seperti
syair, kidung, kakawin, hikayat, berbagai jenis teater rakyat, dan pelipur lara.
Kisah kepahlawanan merupakan genre yang penting di sini, dan dalam
perkembangannya muncul dalm syair dan hikayat, bentuk-bentuk yang aslinya
berasal dari bahasa dan kebudayaan Arab.
Genre wiracerita ini bertahan sampai sekarang karena
pada hakikatnya menggambarkan kisah hidup manusia yang penuh dengan perjuangan
dan pertualangan, yang bisa saja sedih atau bahagia. Dalam wiracerita ini,
tokoh-tokoh bisa memperoleh nilai dan tafsiran secara simbolik ataupun
alegoris, dan karenanya bisa memperkaya bahasa dan sastra.
Gendre lain yang selalu ada dalam semua kebudayaan adalah mantra, yang di Indonesia dimiliki oleh semua suku bangsa. Mantra merupakan sastra lisan yang dipergunakan sebagai wahan untuk mencapai berbagai jenis maksud dan tujuan. Dalam masyarakat lama mantra dapat dipercaya dapat menimbulkan dan menghasilkan berbagai hala di samping mendukung niat kita untuk mencapai suatu tujuan. Dalam sastra bandingan, mantra ini merupakan sumber penelitian yang sangat subur sebab genre itu kedapatan di mana pundan kapan pun, tidak hanya di Indonesia dan tidak hanya dalam tradisi lisan.
7.
Bagian
Tujuh: Membandingkan Dongeng
Bagian ini menjelaskan tentang membandingkan
dongeng. Dalam sastra bandingan, membandingkan dongeng dengan yang mirip dari
berbagai negara merupakan salah satu kegiatan yang sudah banyak dilakukan.
Dongeng mencakup segala jenis kisah dalam yang dalampengertian Barat
dipilah-pilah antara lain menjadi mitos, legenda, dan fabel. Seiring
perkembangan peradaban manusia ditemukan begitu banyak mitos yang mirip serta
berkembang di berbagai daerah yang tampaknya sama sekali tidak ada hubungannya.
Untuk menunjukkkan pendekatan perbandingan mitos
adalah menggunakan kisah Oedipus yang ribuan tahun lampau telah berkembang di
Yunani kuno. Kisah Oedipus ini juga banyak dikenal di negeri Eropa seperti
Albania, Filandia, dan Siprus. Dalam sastra Eropa tersebut tokoh ini muncul
dalam rentetan panjang drama yang dihasilkan oleh Pierre Corneille, John
Dryden, dan Voltaire. Sering berjalannya zaman, kisah itu diunggkapkan lagi
oleh dramawan-dramawan terkenal Perancis Andre Gide dan Jean Cocteau. Di
Priangan, misalnya, kita mendapatkan kisah mengenai Sangkuriang yang sangat
mirip kisahnya dengan Oedipus
Berdasarkan penjelasan mengenai kisah Oedipus tersebut, bahwa dalam suatu tradisi kebudayaan yang sama, kisah Oedipus ini memiliki versi yang berbeda. Hal itu tidak lain berarti bahwa pada setiap zaman memiliki cara tersendiri dalam mengungkapkan dan menafsirkan masalah yang sangat hakiki dalam hidup manusia. Dengan demikian, perkembangan sastra dunia terlihat bahwa banyak sekali tema yang mirip satu dengan yang lainnya, yang dapat memberi peluang bagi peneliti untuk membanding-bandingkannya. Saling mengkaitkan antara kisah-kisah itu bisa dijadikan bahasan dalam sastra bandingan, tentu dengan tujuan penelitian yang berbeda-beda.
8.
Bagian
Delapan: Dalam Bayangan Tagore
Pada bagian delapan ini membahas tentang dalam
bayangan Tagore. Tagore adalah sastrawan yang benama lengkap Rabindranath
Tagore. Tagore merupakan sastrawan Asia yang pertama menerima Nobel untuk
bidang kesusastraan pada tahun 1913, setahun setelah versi Inggris sajaknya
yang berjudul Gitanjali diterbitkan. Puisi Tagore adalah salah satu karya
sastra yang telah bembentuk minat banyak penyair muda terhadap kesusatraan.
Gitanjali yang diterjemahkan oleh Amal Hamzah dan diterbitkan pertama kali pada
tahun 1950-an adalah salah satu buku puisi yang pertama kali pada tahun
1950-an. Salah satu buku puisiyang benar-benar merebut perhatian banyak remaja
pada masa itu.
Puncak minat terhadap gaya penulisan Tagore di
Indonesia terjadi pada tahun 1930-an dan 1940-an; Amir Hamzah, Sanusi Pane, dan
Aoh K. Hadimadja , misalnya, menulis sejumlah prosa liris yang mengingatkan
kita pada gaya penulisan Gitanjali dan Tukang Kebun. Sekitar tiga puluh tahun
menerima penghargaan Nobel tampaknya popularitas Tagore merosot, orang masih
mengagumi dua karya besarnya, tetapi boleh dikatakan tidak ada penyair yang dengan
sungguh-sungguh mencoba mengembangkan gaya penulisan prosa lirisnya lagi. Hal
tersebut menyebabkan rekan-rekan dari India menyatakan bahwa Tagore sudah
menjadi milik sejarah.
Tagore menulis dalam bahasa Bengali. Sejumlah karyanya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, olehnya sendiri atau oleh orang lain. Berdasarkan pengambaran di atas dapat disimpulkan bahwa studi mengenai tokoh dengan menggunakan pendekatan sastra bandingan bisa menghasilkan berbagai jenis tinjauan mengenai jejak, kritik, penerimaan, dan masalah penerjemahan karya-karyanya. Sastra kita tidak dapat terpisahkan dari perkembangan sastra dunia dan karenanya bisa dipahami dengan lebih baik jika kita berusaha menyandingkannya dengan karya sastra dari bangsa-bangsa lain.
9.
Bagian
Sembilan: Jejak Romantisme dalam Sastra Indonesia
Bagian ini menjelaskan tentang bagaimana jejak
romantisme dalam sastra Indonesia. Sajak J.E Tatengkeng ini dijadikan modal
awal untuk membicarakan masalah perkembangan dan perluasan mazhab, dalam hal
ini romantisme, di Indonesia sebelum kemerdekaan. Yang menguasai kaum romantik
adalah rasa, bahkan otak.
Gerakan romantik di Barat merambat dari satu negeri
ke negeri lain, dan mendukung beberapa ciri, antara lain yang penting adalah penekanan
pada pembebasan individu dari sikap sosial dan politik yang konvensional dan
mengekang. Kesusastraan romantik membangkang terhadap keyakinan akan kekuatan
akal abab ke-18. Pengarang romantik menaruh minat terhadap kebudayaan abad
pertengahan karena zaman itu cenderung percaya kepada iman, bertentangan dengan
zaman pencerahan yang bersandar pada logika. Ciri-ciri romantisme terlihat
dalam sejumlah cerita rekaan yang diterbitkan pada masa itu juga, di samping
beberapa drama kamar yang ditulis oleh para penyair, yang mengambil latar zaman
atau negeri yang jauh kata lain untuk eksotik.
Dengan demikian, romantisme lebih berurusan dengan emosi ditimbang rasionalitas, lebih menghargai individu daripada masyarakat, dan lebih menghargai alam daripada budaya. Tatanan, konvensi, dan protokol sosial dianggap sebagai karangan terhadap kebebasan individu dan emosi pun sering disampaikan secara berlebihan. Menurut William Wordsworth menyatakan bahwa tokoh utama romantik dalam perkembangan puisi Inggris, sastra pada umumnya dan puisi pada khususnya adalah lupan spontan dari perasaan yang menggebu-gebu.
10. Bagian Sepuluh: Gatoloco: Kasus
Peminjaman dan Pemanfaatan
Pada bagian ini dijelaskan tentang kasus peminjaman
dan pemanfaatan. Dalam kesusastraan modern, kecenderungan untuk meminjam dan
memanfaatkan segala sesuatu yang bersumber pada khasanah tradisi dan kitab
klasik sangat kuat. Seperti yang telah diuraikan ringkasan konsep kompleks
kisah Oedipus. Pada bagian ini diuraikan dan perbandingan antara sebuah sajak
modern Indonesia dan kitab klasik Jawa. Sebuah sajak Goenawan Mohamad yang
berjudul “Gatoloco” dihadapkan dengan sebuah kitab suluk yang dikenal dengan
judul yang sama.
Bagi sejumlah pengamat, kitab ini dianggap sebagai diskusi antara Islam dan kepercayaan Jawa, itu sebabnya diklasifikasikan sebagai suluk. Jika jejak Goenawan Mohamad dikaitkan dengan kitab tersebut dengan menggunakan pendekatan sastra bandingan, makna yang tersirat bisa lebih dalam dipahami tentu dalam kaitannya dengan masalah religional manusia di zaman modern ini. Perbandingan yang dilakukan nantinya tidak hanya akan menghasilkan pemahaman yang lebih baik atas sajak modern ini, akan tetapi juga atas sikap yang ada dalam masyarakat tertentu di Jawa mengenai hubungan antara manusia dan sang pencipta. Goenawan Muhamad telah meminjam dan memanfaatkan kitab Gatoloco untuk mengungkapkan posisi manusia modern di hadapan penciptanya.
11Bagian Sebelas: Alih Wahana
Dalam bagain ke sebelas buku dibahas tentang alih
wahana. Alih wahana ini merupakan perubahan dari satu jenis kesenian ke
kesenenian lain. Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya bahwah karya sastra
tidak hanya dapat diterjemahkan tapi bisa dialihkan dari bahasa satu ke bahasa
yang lain, tetapi juga dialihkanwahanakan, yaitu diubah menjadi jenis kesenian
lain. Contohnya cerita rekaan bisa diubah menjadi tari, drama, atau film,
sedangkan puisi dapat diubah menjadi lagu atau lukisan. Hal yang lainnya juga
bisa terjadi seperti novel dituliskan berdasarkan film atau drama.
Membandingkan benda budaya yang beralih-alih wahana itu merupakan kegiatan yang
bermanfaat bagi pemahaman yang lebih dalam mengenai hakikat sastra.
Perbedaan yang sangat mendasar antara karya sastra
dan film, misalnya adalah dalam hal mengembangkan imajinasi pembaca dan
penonton. Contaoh dalam membaca Sitti
Nurbaya, yang kita bayangkan mengenai kecantikan gadis itu tentunya sesuai
dengan bayangan yang ada dalam pikiran kita masing-masing. Ketika dianggat ke
layar putih, sutradara harus menentukan siapa yang akan memerankan gadis yang
mahaelok tersebut.
Dalam perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia, ada usaha untuk membukukan film. Beberapa film yang sudah dikenal luas diubah bentuknya menjadi novel. Salah satu film yang diubah menjadi novel adalah film Cinta dalam Sepotong Roti oleh Fira Basuki dengan judul yang sama. Sastra bandingan bisa juga meneliti hubungan antara anasir bunyi dalam puisi dan lagu. Penyaduran karya sastra ke bentuk yang berbeda dengan sumbernya, puisi menjadi prosa dan sebaliknya, dan selanjutnya tanpa mengadakan perubahan atas beberapa usurnya seperti latar, penokohan, dan alur. Dalam sastra Jawa modern jenis seperti di atas yaang paling banyak dilakukan. Jadi, bahan yang dibicarakan alih wahana memberikan peluang yang boleh dikatakan tidak akan habisnya bagi penelitian sastra bandingan.
1 Bagian Dua Belas: Penutup
Pada bagian terakhir buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono ini menjelaskan tentang langkah-langkah yang sebaiknya diambil dalam melaksanakan pendekatan sastra bandingan.
BAB
IV
KOMENTAR
Setelah
membaca serta membandingkan ketiga buku yang dibaca yaitu buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono, buku Sastra Bandingan karangan Zulfahnur Z.F
dan Sayuti Kurnia, dan Buku Sastra
Bandingan: Sebuah Pengantar Teori dan Pengkajian Sastra Bandingan karangan
Yosi Wulandari Maka menurut penulis ketiga buku tersebut adalah
baik digunakan untuk menambah wawasan tentang penelitian tentang sastra
bandingan dan sebagai penunjang pengajaran sastra bandingan untuk tenaga pengajar
baik guru maupun dosen.
Pada bagian ini ketiga buku tersebut adalah buku buku
Pegangan Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono, buku Sastra Bandingan karangan Zulfahnur Z.F
dan Sayuti Kurnia, dan Buku Sastra
Bandingan: Sebuah Pengantar Teori dan Pengkajian Sastra Bandingan karangan
Yosi Wulandari yang penulis bandingkan adalah dari segi bentuk penyajian teori
yaitu hakikat sastra bandingan, perkembangan sastra bandingan, bentuk
perbandingan karya sastra, dan dari segi daftar isi.
Hakikatnya sastra bandingan berlandaskan azas banding-membandingkan. Sastra
bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori
sendiri. Menurut buku Pegangan Penelitian
Sastra Bandingan karangan Sapardi
Djoko Damono Berdasarkan azas tersebut Sapardi
menjelaskan adanya konsep penting bahwa
tidaklah benar jika dikatakan bahwa sastra bandingan sekadar mempertentangan
dua sastra dari dua negara atau bangsa, tetapi lebih merupakan suatu metode
untuk memperluas pendekatan atas sastra suatu bangsa saja. Pada buku
Sastra Bandingan karangan Zulfahnur
Z.F dan Sayuti Kurnia menjelaskan tentang hakikat sastra bandingan bahwa sastra
bandingan merupakan kegiatan untuk mempelajari sastra lisan, terutama cerita
rakyat dan penyebarannya, serta menyelusuri waktu penulisan sastra lisan
menjadi karya yang artistik. Hakikat lainnya menjelaskan sastra bandingan
adalah kegiatan sastra yang menghubungkan dua kesusastraan atau lebih.
Sedangkan menurut buku Sastra Bandingan:
Sebuah Pengantar Teori dan Pengkajian Sastra Bandingan karangan Yosi
Wulandari menjelaskan sastra bandingan adalah sebagai salah ilmu sastra yang
lahir dari berbagai berdebatan.
Masalah
perkembangan dalam sastra bandingan haruslah dijelaskan agar pembaca mengetahui
sampai di mana perkembangan sastra bandingan tersebut. Pada buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono dijelaskan
masalah perkembangan sastra bandingan yaitu bahwa sastra bandingan telah
dikenal luas di dunia akademik, dan selama ini pendekatan sastra bandingan
telah dilaksanakan meskipun sering tanpa pemahaman mengenai konsep-konsep
dasarnya. Sastra bandingan berkembang juga terlihat pada sebuah artikel Sainte- Beuve yang dimuat di Revue des Deux Mondes terbitan tahun
1868 isi artikel tersebut menjelaskan
dengan akurat bahwa cabang studi sastra bandingan baru berkembang di Perancis
pada awal abad ke- 19 dan 20. Sedangkan pada buku Sastra Bandingan karangan Zulfahnur Z.F dan Sayuti Kurnia, dan Buku
Sastra Bandingan: Sebuah Pengantar Teori
dan Pengkajian Sastra Bandingan karangan Yosi Wulandari tidak menjelaskan
tentang perkembangan sastra bandingan.
Pada
buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono bentuk sastra
yang dibandingkan adalah membandingkan dongeng. Selanjutnya, pada buku Sastra Bandingan karangan Zulfahnur Z.F
dan Sayuti Kurnia bentuk perbandingan karya sastra adalah perbandingan puisi
modern Indonesia, membandingkan novel-novel Indonesia, membandingkan novel
antar negara, dan membandingkan cerita rakyat antar daerah di Indonesia.
Kemudian bentuk perbandingan karya sastra pada buku Sastra Bandingan: Sebuah Pengantar Teori dan Pengkajian Sastra
Bandingan karangan Yosi Wulandari adalah lebih ke dalam bentuk peneitian
sastra bandingan.
Berdasarkan
laporan ketiga buku tersebut, penulis simpulkan bahwa semua buku ini sangat bagus untuk referensi dalam melakukan
penelitian sastra khususnya dalam penelitian sastra bandingan. Karena teori apapun di dalam buku bisa dimanfaatkan dalam penelitian sastra bandingan. Buku
ini juga mudah untuk dipahami karena tidak terlalu banyak menggunakan istilah-istilah
ilmiah, tetapi menggunakan bahasa yang umum. Dalam tiap babnya buku ini hanya
membahas satu pokok bahasan. Sehingga materi dalam setiap babnya tidak terlalu
banyak dan ini memudahkan pembaca dalam pemahaman.
1.
Tabel
Perbandingan Berdasarkan Pembahasan
|
Unsur yang dibandingkan |
Buku Pegangan
Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono |
Sastra
Bandingan karangan
Zulfahnur Z.F dan Sayuti Kurnia |
Sastra Bandingan: Sebuah Pengantar Teori
dan Pengkajian Sastra Bandingan karangan Yosi Wulandari |
|
1. Hakikat Sastra Bandingan |
Halaman.2 menjelaskan Sastra bandingan
adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri. |
Pada halaman 1—2 menjelaskan tentang
hakikat sastra bandingan bahwa sastra bandingan merupakan kegiatan untuk
mempelajari sastra lisan, terutama cerita rakyat dan penyebarannya, serta
menyelusuri waktu penulisan sastra lisan menjadi karya yang artistik. Hakikat
lainnya menjelaskan sastra bandingan adalah kegiatan sastra yang menghubungkan
dua kesusastraan atau lebih. |
Halaman
14 menjelaskan sastra bandingan adalah sebagai salah ilmu sastra yang lahir
dari berbagai berdebatan.
|
|
2.Perkembangan
Sastra Bandingan |
Pada halaman 13 menjelaskan
perkembangan tentang sastra bandingan masalah perkembangan sastra bandingan
yaitu bahwa sastra bandingan telah dikenal luas di dunia akademik, dan selama
ini pendekatan sastra bandingan telah dilaksanakan meskipun sering tanpa
pemahaman mengenai konsep-konsep dasarnya. |
Buku Sastra Bandingan karangan Zulfahnur Z.F dan Sayuti Kurnia tidak
menjelaskan tentang perkembangan sastra bandingan. |
Buku
Sastra Bandingan: Sebuah Pengantar
Teori dan Pengkajian Sastra Bandingan karangan Yosi Wulandari tidak
menjelaskan tentang perkembangan sastra bandingan.
|
|
3.Bentuk
Sastra yang dibandingkan |
Buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono bentuk sastra
yang dibandingkan adalah membandingkan dongeng. |
Buku Sastra Bandingan karangan Zulfahnur Z.F dan Sayuti Kurnia bentuk
perbandingan karya sastra adalah perbandingan puisi modern Indonesia,
membandingkan novel-novel Indonesia, membandingkan novel antar negara, dan
membandingkan cerita rakyat antar daerah di Indonesia. |
Buku
Sastra Bandingan: Sebuah Pengantar
Teori dan Pengkajian Sastra Bandingan karangan Yosi Wulandari adalah
lebih ke dalam bentuk peneitian sastra bandingan.
|
Buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono ini berbeda cara penyajian materinya dengan buku Zulfahnur Z.F dan Sayuti Kunia yang berjudul Sastra Bandingan. Secara garis besar pembahasan per bab buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono terdiri 13 bagian dibandingkan dengan buku Zulfahnur Z.F dan Sayuti Kurnia hanya 5 bagian saja tapi ditambah dengan sub bagiannya. Di dalam buku Sastra Bandingan karangan Zulfahnur Z.F dan Sayuti terdapat latihan-latihan pada setiap babnya kecuali yang tidak latihannya pada bab tiga. Dapat dilihat pada tabel berbedaan berikut
2. Tabel Perbandingan dari Segi Daftar isi buku
|
Buku Pegangan
Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono |
Buku Sastra
Bandingan karangan Zulfahnur Z.F dan Sayuti Kurnia |
|
Kata pengantar
terdapat pada halaman iii Daftar isi
pada halaman v 1.
Pendahuluan halaman 1 2.
Beberapa pengertian dasar halaman 2 3.
Perkembangan sastra bandingan pada halaman 13 4.
Asli, pinjaman, tradisi pada halaman 18 5.
Terjemahan pada dhalamn 27 6.
Sastra bandingan nusantara pada halaman 43 7.
Membandingkan dongeng halaman 54 8.
Dalam bayangan tagore halaman 66 9.
Jejak romantisme dalam sastra Indonesia halaman 77 10. Gatotkojo:
Kasus pinjaman dan pemanfaatan halaman 89 11. Ahli wahana
halaman 96 12. Penutup
halaman 111 13. Bahan bacaan
halaman 120
|
Kata Pengantar
halaman i Daftar isi
terdapat pada halaman ii 1.
Pengertian dan Tujuan Sastra Bandingan halaman 1-5 1.1.Peengertian
sastra bandingan halaman 1 1.2.Tujuan Sastra
Bandingan halam 3 Latihan
halaman 5 2.
Perbandingan puisi modern halaman 6-19 Latihan
halaman 17 3.
Perbandingan novel-novel Indonesia halaman 20-44 4.
Perbandingan novel antar negara 5.
Perbandingan cerita rakyat antar daerah di
Indonesia |
|
Buku Pegangan
Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono |
Buku Sastra
Bandingan: Sebuah Pengantar Teori dan Pengkajian Sastra Bandingan
karangan Yosi Wulandari |
|
Kata pengantar
terdapat pada halaman iii Daftar isi
pada halaman v 1.
Pendahuluan halaman 1 2.
Beberapa pengertian dasar halaman 2 3.
Perkembangan sastra bandingan pada halaman 13 4.
Asli, pinjaman, tradisi pada halaman 18 5.
Terjemahan pada dhalamn 27 6.
Sastra bandingan nusantara pada halaman 43 7.
Membandingkan dongeng halaman 54 8.
Dalam bayangan tagore halaman 66 9.
Jejak romantisme dalam sastra Indonesia halaman 77 10. Gatotkojo:
Kasus pinjaman dan pemanfaatan halaman 89 11. Ahli wahana
halaman 96 12. Penutup
halaman 111 13. Bahan bacaan
halaman 120
|
Daftar Isi-4 Prakata-6 Kata
pengantar-9 Bab I Dasar
pemikiran Pengkajian sastra bandingan a.
Konsep dasar pengkajian sastra bandingan b.
Pertimbangan teoritik dalam pengkajian sastra bandingan c.
Dasar pemikiran sastra bandingan Bab
II Sejarah
sastra bandingan terdapat pada halaman 30 Bab
III Konsep
sastra nasional, sastra bandingan, dan sastra dunia halaman 49 Bab
IV Ruang
lingkup Penelitian sastra bandingan halaman 73 Bab
V Keterjalinan
teks dan konteks dalam sastra bandingan halaman -91 Bab
VI Cakupan
kajian sastra bandingan halaman 110 Bab
VII Studi
bandingan sastra
Daftar
rujukan halaman 143 Lampiran
halaman 154 Tentang
penulis halaman 210 |
Buku Pegangan
Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono lengkap berisi bab tentang konsep dasar, Perkembangan; Asli, Pinjaman,
Tradisi; Sastra Bandingan Nusantara; Meninjau Romantisme: Kasus Puisi Inggris
dan Indonesia; Tentang Penerjemahan Sastra; Rabindranath Tagore dan Kita: Kasus
Pengaruh Tokoh Sastra; dan diakhiri bab tentang Alih Wacana. Sedangkan
kalau dilihat buku Sastra
Bandingan Zulfahnur
Z.F dan Sayuti Kunia membahas tentang teori sastra bandingan secara garis besar
saja. Adapun yang dibahas oleh buku Zulfahnur Z.F dan Sayuti yaitu pada bab
pertama menjelaskan tentang pengertian dan tujuan dari sastra bandingan, bab
kedua perbandingan puisi modern Indonesia, bab ketiga perbandingan novel-novel
Indonesia, bab keempat perbandingan novel antar negara, dan pada bab kelima menjelaskan
tentang perbandingan cerita rakyat antar daerah.
Selanjutnya, buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono ini pembahasannya tidak hanya membicarakan tentang teori penelitian sastra bandingan saja melainkan cakupan pembahasan buku Sapardi Djoko Damono ini lebih luas dan mencontohkan lebih detail dan lebih lengkap. Hal tersebut terlihat pada bagian buku Sapardi Djoko Damono yang berjudul “terjemahan” pada bab tersebut Sapardi Djoko Damono memberikan contoh terjemahan penyair Chairil Anwar, untuk mengalihkan sastra sumber ke sastra sasaran. Hal itu untuk memberi gambaran bagaimana kira-kira proses pengaruh itu lewat terjemahan. Sedangkan pada buku buku Sastra Bandingan: Sebuah Pengantar Teori dan Pengkajian Sastra Bandingan karangan Yosi Wulandari lebih difokuskan hanya kepada ilmu sastra bandingan saja. Namun dalam buku Yosi Wulandari ia juga mencontohkan penelitian tentang studi perbandingan sastra yang dicantumkannya pada bab ke-7. Kalau dari segi font tulisan buku Sastra Bandingan: Sebuah Pengantar Teori dan Pengkajian Sastra Bandingan karangan Yosi Wulandari lebih nyaman bagi mata. Jumlah halaman buku Yosi Wulandari lebih banyak dari buku Sapardi Djoko Damono.
BAB V
PENUTUP
Setelah
membaca ketiga buku yang dilaporkan banyak wawasan yang didapatkan oleh
penulis. Buku adalah sumber ilmu. Tidak ada buku yang tidak bermanfaat. Setiap
buku pastilah ada perbedaan antara isi dan penyajiannya meskipun buku tersebut
sama judulnya. Setiap pengarang memiliki interpretasi yang berbada. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa ketiga buku di atas sama-sama penting serta memiliki
kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Kelemahan dan dan kelebihan tersebut
baik berupa penyajian bahasa buku, pembahasan buku, dan lain sebagainya. Ketiga
Buku
ini sangat bagus untuk referensi dalam
melakukan penelitian sastra khususnya dalam penelitian sastra bandingan. Karena teori apapun di dalam buku bisa dimanfaatkan dalam penelitian sastra bandingan. Buku
ini juga mudah untuk dipahami karena tidak terlalu banyak menggunakan
istilah-istilah ilmiah, tetapi menggunakan bahasa yang umum. Dalam tiap babnya
buku ini hanya membahas satu pokok bahasan. Sehingga materi dalam setiap babnya
tidak terlalu banyak dan ini memudahkan pembaca dalam pemahaman.
1.
Manfaat
Adapun
manfaat yang didapatkan dari laporan bacaan buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono ini adalah sebagai berikut.
a. Penulis
Dengan membuat laporan
bacaan buku Pegangan Penelitian Sastra
Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono ini penulis dapat memahami berbagai
ilmu tentang teori sastra bandingan. Bukan hanya sekedar memahami bahkan,
penulis dapat mengetahui bagaimana proses penelitian sastra bandingan di
Indonesia.
b. Pembaca
Diharapkan pembaca
untuk membaca buku Pegangan Penelitian
Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono ini. Karena buku ini sangat
cocok untuk referensi dalam penelitian tentang sastra bandingan. Buku ini sangat bermanfaat sebagai
bekal untuk melakukan penelitian, karena teori apapun bisa dimanfaatkan dalam
penelitian sastra bandingan.
2.
Kritik
Ketiga buku tersebut memiliki kelemahan dan kekurangannya masing-masing. Jika buku Pegangan Penelitian Sastra Bandingan karangan Sapardi Djoko Damono diterbitkan ulang, supaya lebih menarik lagi lebih memperhatikan format buku, termasuk pilihan font supaya tidak “memberatkan” mata pembaca, kemudian juga memperhatikan pengetikan bahasanya.
KEPUSTAKAAN
Damono,
Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian
Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa.
Wulandari,
Yosi. 2014. Sastra Bandingan: Sebuah Pengantar
Teori dan Pengkajian Sastra Bandingan. Solo: Jagat Abjad.
Zulfanur
Z.F dan Kurnia, Sayuti. Sastra Bandingan.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
0 Komentar