HABIH RONO
Cerpen Armet
Sebuah
pagi dengan udara dingin yang mana pagi itu masih sama saja lembabnya dengan
aroma pagi sebelum-sebelumnya. Bintang pagi masih kerlap-kerlip sebentar lagi
akan menyemunyikan dirinya. Hujan
semalam masih meneteskan jatuhan tetesanya yang jatuh satu persatu di atas
atap, yang mengingatkanku pada hujan musim lalu. Musim yang selalu
berganti dimana burung-burung kedinginan
di balik daun-daun pohon yang daunnya hanya ada satu persatu yang sekarang
mulai tumbuh karena musim kemarau telah berlalu. Di tanah inilah aku lahir dan
menjalani kalutnya hidup bersama keluargaku. Hidup yang penuh suka dan duka
membuatku hampir saja aku putus asa tapi untung saja itu tidak terjadi, bahkan
aku bertambah semangat menjalani hidup yang penuh liku-liku ini, karena yang
merubah hidupku hanya aku dan tidak ada yang lain. Itu prinsip hidupku yang
bisa membuatku semangat dan tetap tersenyum seperti ini.
Pagi
pun menyusuri, kubuka jendela kamarku jendela yang kelihatan sangat kusam
karena sudah termakan usia. Ku ucapkan selamat pagi kampungku, tanah yang
kubanggakan dan ku sanjung-sanjung sampai akhir hayatku. Tatapan yang jauh di
ujung gang-gang dekat rumahku, tiba-tiba saja aku ingat dengan temanku Rustam,
sahabat yang selalu dekat denganku, aku masih ingat main gundu bersama,
main-main yang lainnya yang sudah lama ditinggalkan oleh nenek moyang kita yang
terdahulu.
Semenjak
tamat SMA, Rustam menekatkan diri untuk pergi merantau bersama salah seorang
keluarganya. Kata orang sekampung Rustam sudah jaya hidupnya di negeri
orang. Rustam yang sudah lama
meninggalkan ranah Minang merantau ke tanah Jawa dan sampai sekarang belum juga
menampakkan pematang hidungnya untuk melihat tanah kelahirannya bahkan semua keluarganya
pun dibawa Rustam ke tanah Jawa. “Ingat
Isa jangan kamu melupakan tanah kelahiranmu nanti kalau kamu merantau ke negeri
Orang”. Itu yang sering disampaikan ibu kepadaku. Mudah-mudahan aku selalu
ingat nanti nasehat Ibu ketika aku merantau ke negeri orang. Sebenarnya aku
ingin sekali merantau ke negeri orang seperti Rustam, tapi aku tidak sanggup
melihat Ayah sendirian mengelolah ladang, biarlah aku bekerja di kampung
membantu Ayah dulu.
Aku
sedih kalau aku nanti pergi merantau ke negeri orang siapa lagi yang membantu
Ayah bekerja mengelolah ladang, karena aku adalah anak satu-satunya beliau yang
bisa membantu beliau. Suatu hal yang membuatku selalu berpikir panjang, mau ke
mana aku, aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku dan membahagiakan kampung
yang ku cintai. Pokoknya aku harus
merantau tapi bukan merantau seperti sahabatku Rustam yang tak pernah lagi
melihat tanah kelahirannya.
***
Pernah
aku bilang sama Ibu “Aku ingin mencari kerja Bu? Aku ingin merantau?”. Cuma
satu kalimat yang diucapkan oleh Ibu kepadaku “Jangan lupakan kampungmu!”.
Kata-kata itu dilontarkan lagi oleh Ibu kepadaku. Ada kata yang begitu menusuk
hatiku. Isa, Ibu dan Ayah sudah semakin tua seandainya kamu berhasil merantau
jangan lupakan kami berdua ingat itu Nak. Kata itu yang membuatku meneteskan
air mata.
“Ketahuilah
Isa merantau ke negeri orang itu tidak semudah membalikan telapak tangan, tapi
kalau kamu bersikeras juga untuk pergi Ibu akan
merestuinya, tapi ingat kata-kata Ibu” di mana langit dipijak disitu
langit dijunjung Nak..
Mendengar
kata-kata dari Ibu tak kuasa air mataku makin tak tertahankan “Aku janji Bu,
aku tidak akan pernah melupakan Ibu dan Ayah aku akan selalu merindukan kalian
berdua aku berjanji akan membahagiakan Ibu dan Ayah serta akan mengembalikan
rono kampungku yang sudah mulai kusam. Itulah tekadku untuk pergi merantau.
“Ibu
doakan anakmu supaya sukses dirantau orang dan bisa membangit batang yang
terendam.”
“Doa
Ibu menyertaimu Nak, jaga dirimu baik-baik Nak..”
Akhinya
aku nekat pergi merantau ke negeri orang, menjelang aku meninggalkan kampungku
air mata ini tiada hentinya mengalir begitupun dengan kedua orang tua ku. Aku
masih ingat kata itu, “ Isa hati-hati di rantau orang Nak!” itu kata yang
terakhir diucapkan oleh ibu waktu aku meninggalkan ayah ibu dan kampungku.
Waktu itu aku tekadkan dalam hatiku “Iya ibu aku akan selalu ingat dengan
pituah ibu, aku hanya merantau sementara, aku akan membali ayah, ibu, dan
kampungku.
***
Sudah
satu tahun aku di rantau orang alhamdulillah aku mendapatkan pekerjaan yang
layak dan gajinya pun cukuplah buat keseharianku dan aku juga bisa menabung
untuk ibuku. Bulan depan akan memasuki lebaran, tentunnya tidak melupakan momen
itu untuk pulang kampung. Besok lusa aku akan berangkat pulang ke kampungku,
aku sudah rindu sama ibu, ayah, dan suasana kampungku. Aku berharap kampungku
rame seperti lebaran sebelum-sebelumnya dan juga banyak sahabat-sahabatku yang
pulang kampung.
Sebuah
pagi yang cerah menyambut senyumku, sebuah hari yang membuat bahagia diriku. Di
stasiun ini aku datang dan di stasiun ini pula aku kembali, kembali ke
kampungku. Aku termenung sejenak. Aku ingat masa lalu, ternyata sudah jauh
rasanya kaki ini melangkah, Isa. Kini ibu, ayah, dan kampungku menunggu dengan
bahagianya. Selamat datang Isa di kampungmu..
Aku
tentu masih ingat dengan suasana kampungku yang dulu waktu aku masih SMP.
Suasana yang ramai penuh dengan canda dan tawa waktu gotong royong dikampungku.
Kini ramai yang kurasakan dulu hilang bak ditelan bumi. Sekarang kampungku
sudah semakin sepi, semua pemuda maupun pemudi banyak merantau ke negeri orang.
Surau yang dulunya ramai kini sudah berkurang. Terkadang aku berpikir kapan
lagi kampungku seperti dahulu, aku rindu kampungku seperti yang dahulu.
Keindahan itu satu persatu mulai luntur karena pengaruh zaman yang semakin
edan.
Awalnya
aku tidak mengerti mengapa semua ini terjadi pada negeriku, negeri yang selalu
kujaga dan ku bela sepanjang masa. Permainan anak rakyat yang dulunya banyak dan sering dimainkan anak-anak dikampungku
kini tidak ada lagi yang memainkannya, sekarang orang kampungku sibuk dengan
kemajuan teknologi zaman sekarang. Permainan anak rakyat itu mereka anggap kuno
dan jadul. Bahkan kebudayaan Minang pun satu persatu sudah mulai hilang dengan
sendirinya karena orang kampungku sudah asyik dengan kebudayaan yang baru yang
ditirunya dari budata Barat. Wanita yang identik dengan baju kurungnya kini tidak
lagi ku temukan hal demikian, kemana perginya rono kampungku. Padang, 2013
2 Komentar
semangat dan sukses bang
BalasHapusAmin...
Hapus